Mau jadi spesialis?

Per Januari 2017, alhamdulillah saya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi. Saya diterima untuk mengikuti program residensi di almamater saya, kampus biru! Dalam beberapa hari sejak pengumuman penerimaan, social media saya dipenuhi (lebay! 😂) dengan ucapan selamat dan pertanyaan mengenai tips dan trik. Sejujurnya, tidak ada tips maupun trik yang bisa saya berikan. Persiapan saya tidak berbeda dengan peserta tes lainnya, bahkan mungkin kurang!

Kalau masih mau baca, monggo. 😁

1. Daftar di almamater sendiri.
Bagaimanapun lulusan sendiri akan lebih diutamakan dari lulusan lain, sesama universitas negeri pun biasanya prioritasnya berbeda.

2. Belajar. Klise sih, tapi beneran deh belajar! Walaupun misalnya fresh graduate baru selesai Internship-pun, belajar lah. Apalagi kalau daftarnya di bagian yang lagi booming. Minta catatan kuliah dari mahasiswa universitas tersebut. Kalau salah satu guru besar dari bagian yang dituju pernah menulis buku ajar, pelajari!

3. Cari rekomendasi. Lebih baik jika rekomendasinya dari staff universitas asal dan dari universitas tempat mendaftar (jika berbeda). Biasanya minimal dua rekomendasinya, kemarin saya mengumpulkan empat. Pertama dari staff yang membimbing saya saat rotasi, kedua dari staff saat stase luar kota, ketiga dari staff saat saya Internship, keempat dari kepala daerah tempat saya Internship. Berlebihan? Memang. Karena menurut saya lebih baik lebih dari kurang. Siapa tau kelebihan saya bisa menutupi kelemahan saya. Bagaimana memilih staff yang akan dimintai rekomendasi? Pilih staff yang memang anda kenal, kalaupun saat rotasi tidak kenal, maka perkenalkan diri anda. Tanyakan apakah mungkin untuk menjadi asisten penelitian atau magang di bagian, atau asisten pribadi (shadowing). Kalau bisa, pilih staff yang mau membela kita saat wawancara dan rapat penerimaan.

4. Latihan wawancara. Banyak sekali saya mendengar kejadian dokter-dokter dengan IPK spektakuler, rekomendasi tokcer, etc ternyata tidak diterima. Kenapa? Ternyata blunder saat wawancara. Perlu diingat ada beberapa pertanyaan jebakan, misalnya “kenapa daftar disini, kok tidak di univ xxx?” Jangan pernah menjelekkan center lain! “Kenapa daftar bagian ini, kok tidak bagian xxx?” Jawablah dengan menjelaskan kenapa anda berminat dengan bagian yang anda daftar, jangan dijawab dengan kenapa bagian lain tidak menarik. “Apa kelemahan anda?” Yaa.. pinter-pinter jawabnya jangan misalnya anda daftar bedah lalu dijawab kelemahan anda tremor, pasti out. Jika staff duduk tidak dalam formasi sebaris, ingat untuk selalu duduk menghadap ke staff yang bertanya, jangan hanya menengokkan kepala. Ingat juga untuk tidak membelakangi staff lainnya saat anda berputar.

5. Uang. Serius. Bayangkan tidak bekerja selama 4-5 tahun. Perlu tabungan berapa? Anggap uang semesteran Rp 15.000.000,- ; biaya pribadi per bulan Rp 4.000.000.- (kost, makan, etc) ; alat dan buku Rp 15.000.000,- ; pengeluaran tidak terduga Rp 30.000.000,-. Kalau perlu 8 semester, maka Rp 357.000.000,- anggap saja Rp 400.000.000,- biar aman. Belum lagi kalau sudah berkeluarga dan anaknya juga sekolah.. Pilihan lain? Banyak! Tubel, kemitraan, LPDP, bisa tanya lagi ke mbah Google pilihan lainnya.

6. Kesehatan. PPDS itu berat, bukan cuma di otak dan di hati, tapi juga di badan. Badan harus fit! Jangan lupa tidur dan makan yang bergizi, jangan nasi padang terus!

7. Berdo’a. Paling penting! Kalau sudah disiapkan semua, yang tersisa ya berdo’a dan meminta bimbinganNya.

GOOD LUCK! See you in PPDS hell. 😂